Awan Panas, Panas Betul!!

Written by Beti Adini Wulandari 0 komentar Posted in:






Letusan gunung api selama ini tidak dapat dicegah. Upaya yang dapat dilakukan hanyalah mengurangi jumlah kerugian dan korban, tetapi tidak mungkin menghilangkan sama sekali. Apalagi, instansi terkait pun belum dapat memastikan dengan tepat waktu letusan terjadi. Kesadaran, kewaspadaan dan kesiap-siagaan komunitas jelas diperlukan. Berdasarkan pengalaman letusan 22 November 1994 tersebut, untuk mengurangi jumlah dan kerugian akibat letusan gunungapi perlu dilakukan peningkatan pemahaman yang benar tentang perilaku gunungapi tersebut. Pemahaman atas sebuah kebenaran tentu saja boleh saja berbeda. Ada kebenaran di atas buku,  dan ada pula kebenaran atas kenyataan yang ada. Di lereng Merapi, masyarakat korban membawa informasi dan pengalaman luar biasa. Pengalaman korban dapat menguji pendapat umum atau pakar yang sebenarnya tidak mengalami peristiwa tersebut. Selanjutnya, dapat menjadi sumbangan pada pemahaman tentang awan panas.  Bagi masyarakat Turgo dan sekitarnya, resiko paling tinggi  dari letusan Merapi yang pernah terjadi adalah akibat awan panas. 
Awan Panas, Panas Betul
Sebuah kenyataan tidak menarik ketika masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana gunung api, tetapi kurang memahami dengan baik resiko letusan gunungapi yang diakibatkannya. Sebelum 22 Nopember 1994, sebagian besar masyarakat Turgo dan sekitarnya cenderung belum tahu bahaya awan panas. Pada saat terjadi awan panas, lokasi saksi mata dapat dibagi menjadi tiga posisi,  di sekitar Turgo, di sekitar kali Boyong  dan di sekitar Kaliurang . Jarak  saksi mata korban di Turgo dan Kaliurang dengan puncak Merapi  sekitar 6.000 - 6250 meter, dengan jarak maksimum saksi sekitar 250 meter dari tebing sungai Boyong. Reaksi atas munculnya awan panas beraneka ragam. Sebagian saksi mata merasa telah muncul sebuah tanda buruk sehingga mengambil keputusan untuk lari, merasa takut, bingung. Beberapa saksi juga ingin tahu apa yang terjadi. Akhirnya semua korban melakukan upaya penyelamatan diri, antara lain dengan masuk ke dalam rumah atau lari ke luar rumah dan tidak bisa berbuat apa-apa karena rumahnya roboh.Awan panas merupakan “pengalaman baru” bagi para saksi mata. Pengetahuan mengenai awan panas didapatkan dari cerita orang tua-tua tentang  peristiwa awan panas tahun 1961 dan pindahnya orang-orang desa sekitar Ngori, Patuk dan Sembung. Beberapa saksi mata menganggap awan panas tidak berbahaya bagi kawasannya karena lazimnya awan panas meluncur ke arah barat dan barat daya, ke Kali Krasak. Olah karena itu sebagian besar saksi mata baru mengetahui bahwa awan panas itu berbahaya setelah peristiwa tersebut. Makna “pengalaman baru” ini menjadikan para saksi mata tidak saling memperingatkan dan merasa tidak ada yang memperingatkan akan adanya letusan gunungapi. Termasuk juga tidak ada sistem peringatan dan informasi dini dari instansi terkait. Peringatan hanya diterima oleh sebagian kecil saksi mata karena dapat melihat G. Merapi dan mengetahui awan panas mulai turun. Kebetulan sebagian saksi mata berada pada posisi yang tidak dapat melihat G. Merapi karena tertutup bukit Turgo.Bentuk, warna dan kondisi awan panas ternyata cenderung berbeda menurut posisi. Saksi mata bukan korban yang berada di barat kali Boyong melihat awan panas seperti asap tebal berwarna hitam, dan merah bergulung‑gulung. Saksi mata yang terjebak di tengah awan panas melihat awan panas berwujud seperti abu berwarna hitam, merah dan coklat. Di bagian tepi, awan panas terlihat seperti asap tebal kemerahan dan percikan api yang merah membara. Bara api yang telah di tanah berloncat-loncat. Saksi mata bukan korban di timur kali Boyong melihat awan panas seperti asap tebal berwarna hitam, abu-abu, dan merah bergulung‑gulung di bagian bawah, dan bergumpal-gumpal semakin besar dan warna berubah menjadi bening. Setelah proses itu selesai, suasana menjadi terang kembali. Beberapa saksi mata korban merasakan gelap pekat seperti malam. Selanjutn ya kondisi berangsur normal ditandai dengan kepekatan awan panas yang berkurang, sampai udara jernih kembali, namun awan panas kecil masih berguguran. 

Kecepatan Gerak dan Suhu
Awan panas bergerak cepat dan berada di lokasi dalam waktu singkat. Disadari bahwa kecepatan awan panas sampai di lokasi dalam waktu singkat, kurang dari satu menit. Saksi mata di Kaliurang melihat awan panas lebih dulu menyerang kawasan Turgo dengan menghancurkan pemukiman dan hutan, baru kemudian melanda Kaliurang. Kecepatan gerak awan panas sangat berhubungan dengan besar tekanan yang diberikan, yang tergantung posisi terhadap alur utama (kali Boyong)  dan morfologi penghalang (bukit Turgo dan Plawangan). Secara umum gerak awan panas sangat cepat. Gerakan awan panas di barat kali Boyong lebih kuat dibanding dengan di timur kali Boyong. Saksi mata bukan korban melihat proses perjalanan “serangan” awan panas dari puncak Merapi sampai menyerang Turgo kurang dari 10 menit. Serangan awan panas hanya berlangsung sekali dan setelah itu tidak ada lagi. Namun setelah awan panas menyerang, Merapi masih mengeluarkan awan panas tapi relatif kecil.Sebaran butir dan arah gerak awan panas tergantung posisi saksi mata terhadap terhadap alur utama, kali Boyong itu, dan morfologi penghalang, bukit Turgo dan Plawangan. Di barat kali Boyong awan panas menyerupai hujan pasir yang tertiup angin, bergerak miring dari arah utara atau timur laut. Di dalam alur kali Boyong, awan panas seperti hujan kerikil dari arah utara. Di timur kali Boyong awan panas seperti hujan pasir dan abu yang tertiup angin, sesuai arah angin dari timur dan timur laut. Kecepatan gerak awan panas di sebelah timur kali Boyong lebih memberikan kesempatan para saksi mata untuk bereaksi menyelamatkan diri dibanding di sebelah barat. Sebagian saksi mata di timur kali Boyong, walaupun akhirnya menjadi korban, masih sempat memberikan tanda bahaya ke warga desa yang berada di lembah kali Boyong. Saat awan panas menerpa, saksi mata cenderung masih dapat berdiri untuk berlari ataupun berlindung. Beberapa tidak dapat berdiri karena jatuh akibat hembusan awan panas yang kuat, atau jatuh karena tertimpa rumah yang roboh. Bagian dalam awan panas terasa kering dan pasirnya terasa panas dengan bau belerang bercampur bau lumpur yang menyengat. Awan panas menyebabkan gangguan pernapasan, sesak napas dan bahkan tidak bisa bernapas sama sekali. Meskipun telah melakukan berbagai tindakan perlindungan, butiran pasir tetap masuk ke mulut, hidung atau telinga. Gerakan perlindungan secara reflek dilakukan dengan menutup wajah dengan tangan, atau menutupi tengkuk dengan kedua tangan sambil menundukan wajah. Meskipun tetap kemasukan butiran awan panas di mulut, hidung maupun telinga, namun upaya perlindungan seperti itu setidaknya telah menyelamatkan wajah responden.  

Manfaat Baju, Topi dan Sandal
Topi memberi manfaat cukup penting. Kondisi rambut saksi mata korban cenderung berbeda berdasarkan posisi. Rambut saksi mata korban di Turgo cenderung terbakar atau gimbal dan berdiri, sementara saksi mata korban di Kaliurang hanya sebagian kecil yang terbakar atau gimbal dan berdiri. Saksi mata korban yang memakai topi, kondisi rambutnya cenderung tidak apa-apa. Pakaian yang dikenakan memberikan makna proteksi penting. Seluruh saksi mata korban merasa terselamatkan oleh pakaian yang dikenakan, karena bekas luka bakar terkena pada bagian yang terbuka. Saksi mata korban umumnya mengenakan baju lengan pendek, dan menunjukan luka bakar berupa lubang-lubang  di Turgo dan tidak apa-apa di Kaliurang.  Saksi mata korban memakai kaos lengan pendek. Kondisi kaos saksi mata korban di Turgo berlubang-lubang dan di Kaliurang tidak apa-apa. Saksi mata korban di atas kali Boyong mengenakan kaos lengan panjang dan menampakan kondisi berlubang-lubang. Celana yang dikenakan saksi mata korban umumnya celana panjang. Dari jumlah tersebut hanya sebagian kecil  yang terbakar. Saksi mata korban yang mengenakan celana pendek, kakinya terbakar semua. Saksi mata korban yang mengenakan sandal atau sepatu, kakinya tidak terbakar. Saksi mata korban yang tidak memakai sandal atau sepatu cenderung mengelupas di bagian telapak kaki. Setelah awan panas selesai, semua saksi mata korban mengatakan masih mampu berjalan, sambil membopong anak dan bahkan mampu berlari. Waktu yang diperlukan untuk evakuasi mulai penemuan korban sampai pengangkutan ke rumah sakit sangat beragam. Korban umumnya segera ditemukan oleh penolong, hanya sebagian kecil yang tidak tahu karena pingsan atau merasa cukup lama. 

Gangguan Medis
Awan panas lebih memberikan problem medis bagi korban di Turgo dibanding di Kaliurang. Penanganan dan perawatan pertama di rumah sakit sangat bervariasi, antara lain kurang dari sebulan, lebih dari sebulan dan lebih dari tiga bulan. Problem medis yang muncul umumnya adalah rasa gatal pada daging di bawah kulit pada bekas luka bakar. Pada kasus khusus misalnya sampai kehilangan telinga, rambut jadi gundul dan tidak dapat tumbuh atau gangguan syaraf. Kondisi tersebut  yang secara tidak langsung menyebabkan daya tahan tubuh menurun dan produktifitas terganggu.  

Lantas?
Berdasarkan pengalaman saksi mata yang dipaparkan itu, terdapat beberapa kenyataan kritis yang penting dan dapat digunakan sebagai pendekatan dalam kesiapsiagaan menghadapi bahaya letusan G. Merapi, antara lain  :
§         Sebaran awan panas dikontrol oleh volume longsoran, morfologi kaki gunungapi dan alur-alur sungai. Untuk kasus ini lebar sebaran maksimum 250 m dari dinding alur sungai, serta panjang sebaran maksimum sekitar 6.500 m dari pusat erupsi. Pusat aliran awan panas cenderung ke arah bukit Turgo / sisi lengkung luar lembah kali Boyong.
§         Kecepatan gerak awan panas dikontrol kemiringan lereng. Untuk kasus ini, waktu tempuh sekitar lima menit, atau dengan kecepatan gerak lebih 75 km/jam. Gerak pada pusat aliran memberikan tekanan yang besar, dan semakin berkurang pada tepi aliran.
§         Suhu awan panas sangat tinggi, namun hanya mempunyai durasi yang singkat (beberapa detik sampai kurang dari satu menit). Hal ini menguntungkan karena efek bakar umumnya hanya terjadi pada kontak langsung.
§         Gangguan medis ikutan selain efek bakar disebabkan oleh pasir dan abu yang masuk ke mulut, telinga dan hidung, serta bau belerang dan tanah mencolok hingga sesak nafas.Mempertimbangkan kenyataan kritis tersebut diatas maka dapat dilakukan pendekatan mitigasi bencana dengan “cara lain”. Perlu kewaspadaan bencana alam gununga pi yang diadakan dan juga bertumpu oleh masyarakat. Model ini dimulai dengan mengajak masyarakat memahami posisi keruangannya yang berada di kawasan rawan bencana, sampai pada masyarakat mempunyai kemampuan untuk melakukan kesiapsiagaan terhadap ancaman letusan gunungapi. Secara swadaya diharapkan masyarakat mampu memproteksi / melindungi diri secara kelompok maupun pribadi terhadap bahaya bencana gunung Merapi. Memperhatikan kenyataan kritis itu pula, maka akan lebih baik jika :
§         Masyarakat selalu memahami dan tanggap terhadap semua gejala awal, dan mampu memberikan informasi atau melakukan mobilisasi warga dalam waktu singkat. Pada kasus ini maksimal selama lima belas menit.
§         Masyarakat menghindari mendirikan pemukiman dan bahkan melakukan kegiatan pada kawasan sangat rawan, yaitu zona dengan jarak sedikitnya 250 m dari dinding alur sungai, pada jarak sekitar 6.500 m dari pusat erupsi.
§         Penguatan kemampuan masyarakat sehingga dapat segera berlindung pada tempat yang aman (bunker, misalnya) dalam waktu singkat yang tahan terhadap hempasan dan suhu tinggi, serta tidak terjadi kontak langsung untuk waktu yang cukup singkat. Bak kamar mandi dengan selang untuk pelengkap bernafas, misalnya. 


(029)

0 komentar:

Posting Komentar