Belerang dioksida merupakan gas berbau yang sangat menyengat. Gas ini dapat bereaksi dengan oksigen, amoniak, dan dengan uap air membentuk embun asam sulfat. Sumber belerang dioksida terbesar berasal dari letusan gunung berapi dan oksidasi gas H2S. Selain itu, juga berasal dari proses pembakaran bahan bakar pada kendaraan, proses pembakaran minyak bumi dan batubara. Pada letusan gunung Merapi lebih banyak mengandung belerang dioksida daripada gunung Bromo karena letak gunung Bromo yang jauh lebih tinggi dimana jumlah oksigen semakin sedikit sehingga gas SO2 yang terbentuk tidak sepekat gunung Merapi.
Gb.1. Gunung Merapi
Gb.2. Gunung Bromo
Beberapa akibat adanya gas SO2 ini yaitu :
1. Menyebabkan iritasi pada mata dan khususnya saluran pernapasan.
Reaksi kimia yang terjadi dalam tubuh jika menghirup gas SO2 :
SO2 + H2O àH2SO4
Dari reaksi tersebut, akan dihasilkan asam sulfat dan berlanjut dengan jaringan tubuh lainnya yang akan menyebabkan dehidrasi. Bila tenggorakan dalam keadaan lembab, maka SO2 tidak akan sampai paru-paru. Namun, jika banyak terhirup tentu akan menerobos hingga paru-paru khususnya alveolus dan akan menyebabkan ISPA bahkan kematian. Tubuh kita memiliki pertahanan diri, misalnya di hidung dan tenggorokan terdapat gerakan peristaltik dan terdapat lendir yang bersifat basa yang akan mengeluarkan benda asing seperti gas SO2 berupa dahak.
2. Menyebabkan korosi pada logam dan bahan bangunan
3. menyebabkan daun tanaman mengalami klorosis
Gas SO2 juga memiliki manfaat dalam bidang pertanian. Berikut reaksi oksidasi H2S :
2H2S + 3 O2à 2 SO2 + 2 H2O
Gas H2S diperoleh dari bakteri anaerob yang membusuk. Dalam pertanian, gas SO2 yang terbentuk akan bereaksi dengan uap air membentuk asam sulfat. Reaksi ini sama dengan yang terjadi dalam tubuh. Jika terdapat ion kalium K+, maka akan terbentuk kalium sulfat yang merupakan pupuk yang baik bagi tanaman.
K+ + SO42-à K2SO4
Sebelum menanam biasanya para petani membajak tanah, tahukan Anda kenapa petani melakukan itu dilihat dari segi kimianya? Selain untuk menggemburkan tanah, juga agar ada oksigen yang masuk melalui rongga-rongga tanah dan menghasilkan SO2 yang bermanfaat sebagai pupuk alami. SO2 juga dapat bereaksi dengan amoniak membentuk amoniak sulfat yang juga merupakan pupuk yang baik.
Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalamtanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang. Istilah Hujan asam pertama kali diperkenalkan oleh Angus Smith ketika ia menulis tentang polusi industri di Inggris). Tetapi istilah hujan asam tidaklah tepat, yang benar adalah deposisi asam
Deposisi asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk surful dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan.
Deposisi asam ada dua jenis, yaitu deposisi kering dan deposisi basah. Deposisi kering ialah peristiwa terkenanya benda dan mahluk hidup oleh asam yang ada dalam udara. Ini dapat terjadi pada daerah perkotaan karena pencemaran udara akibat kendaraan maupun asap pabrik. Selain itu deposisi kering juga dapat terjadi di daerah perbukitan yang terkena angin yang membawa udara yang mengandung asam. Biasanya deposisi jenis ini terjadi dekat dari sumber pencemaran.
Deposisi basah ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asap di dalam udara larut di dalam butir-butir air di awan. Jika turun hujan dari awan tadi, maka air hujan yang turun bersifat asam. Deposisi asam dapat pula terjadi karena hujan turun melalui udara yang mengandung asam sehingga asam itu terlarut ke dalam air hujan dan turun ke bumi. Asam itu tercuci atau wash out. Deposisi jenis ini dapat terjadi sangat jauh dari sumber pencemaran.
Hujan secara alami bersifat asam karena Karbon Dioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.
Pada dasarnya Hujan asam disebabkan oleh 2 polutan udara, Sulfur Dioxide (SO2) dan nitrogen oxides (NOx) yang keduanya dihasilkan melalui pembakaran. Akan tetapi sekitar 50% SO2 yang ada di atmosfer diseluruh dunia terjadi secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi maupun kebakaran hutan secara alami. Sedangkan 50% lainnya berasal dari kegiatan manusia, misalnya akibat pembakaran bahan bakar fosil (BBF), peleburan logam dan pembangkit listrik. Minyak bumi mengadung belerang antara 0,1% sampai 3% dan batubara 0,4% sampai 5%. Waktu BBF di bakar, belerang tersebut beroksidasi menjadi belerang dioksida (SO2) dan lepas di udara. Oksida belerang itu selanjutnya berubah menjadi asam sulfat (Soemarwoto O, 1992).
Menurut Soemarwoto O (1992), 50% nitrogen oxides terdapat di atmosfer secara alami, dan 50% lagi juga terbentuk akibat kegiatan manusia, terutama akibat pembakaran BBF. Pembakaran BBF mengoksidasi 5-50% nitrogen dalam batubara ,40-50% nitrogen dalam minyak berat dan 100% nitrogen dalam mkinyak ringan dan gas.Makin tinggi suhu pembakaran, makin banyak Nox yang terbentuk.
Selain itu NOx juga berasal dari aktifitas jasad renik yang menggunakan senyawa organik yang mengandung N. Oksida N merupakan hasil samping aktifitas jasad renik itu. Di dalam tanah pupuk N yang tidak terserap tumbuhan juga mengalami kimi-fisik dan biologik sehingga menghasilkan N. Karena itu semakin banyak menggunakan pupuk N, makin tinggi pula produksi oksida tersebut.
Senyawa SO2 dan NOx ini akan terkumpul di udara dan akan melakukan perjalanan ribuan kilometer di atsmosfer, disaat mereka bercampur dengan uap air akan membentuk zat asam sulphuric dan nitric. Disaat terjadinya curah hujan, kabut yang membawa partikel ini terjadilah hujam asam. Hujan asam juga dapat terbentuk melalui proses kimia dimana gas sulphur dioxide atau sulphur dan nitrogen mengendap pada logam serta mengering bersama debu atau partikel lainnya.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Hujan_asam & http://anafio.multiply.com/reviews/item/5
Banyak kota–kota didunia dilanda oleh permasalahan lingkungan,paling tidak adalah semakin memburuknya kualitas udara.terpapar oleh polusi udara saat ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kota-kota seluruh dunia.Informasi yang ada menunjukkan bahwa pedoman kualitas udara dari WHO secara teratur telah disebar diberbagai kota, bahkan di beberapa tempat tersebar luas. Angka yang didapat dari kota-kota yang sedang berkembang dan umumnya banyak diantara mereka tidak ada ukuran pengontrol polusi, kemungkinan akan terjadi pencemaran bagi buruh,dan kualitas hidup sebagian besar penduduk kota akan semakin memburuk. Walaupun beberapa kemajuan talah dicapai dalam pengendalian polusi udara dinegara-negara Industri lebih dari dua dekade terakhir ini, Kualitas udara terutama sekali dikota-kota besar negara sedang berkembang lebih buruk.
Sejak tahun 1974, World Health Organization (=WHO)telah bekerja sama dengan Global Environment Monitoring System (=GEMS) bagian udara yang mengoperasikan jaringan pengontrol udara diperkotaan. GEMS menjalankan jaringannya keseluruh dunia untuk mengontrol kualitas udara dan air, dibantu oleh WHO dan United Nation Environment Programme (=UNEP).
Baru-baru ini komisi kesehatan dan lingkungan WHO yang telah merampungkan tugasnya, mengidentifikasi polusi udara diperkotaan sebagai masalah pokok kesehatan lingkungan yang patut mendapatkan prioritas utama untuk diatasi. Dua hal yang sangat mempengaruhi panyebaran dan transportasi dari zat-zat pencemar udara, yakni iklim dan cuaca, serta letak topografi daerah yang dikaitkan dengan penyebaran penduduk.
Iklim–iklim dikota besar berbeda dengan benua yang lebih dingin dan lembab (seperti di Beijing yang sangat dingin), dibandingkan dengan daerah yang di Gurun (Kairo) atau tropical dengan temperatur sedang dan kelembaban tinggi (Bangkok). Akibat beratnya musim dingin, dapat menentukan jumlah pemanasan yang dibutuhkan penduduk sehingga meningkatkan emisi-emisi polutan, seperti SO2 diwaktu musim dingin. Pada kota–kota dengan temperatur sedang, beban polusi cenderung disebarkan secara merata sepanjang tahun. Thermal inversion (=pembalikan suhu) merupakan masalah khusus bagi kotakota dengan iklim panas dan dingin. Dalam keadaan penyebaran normal, gas-gas pencemar yang panas akan timbul disaat mereka datang dan kontak dengan masa udara yang dingin, pada ketinggian yang lebih tinggi.
Bagaimanapun lingkaran–lingkaran tertentu, suhu udara lebih meningkat jauh dan membentuk suatu lapisan inversi beberapa puluh atau ratus meter diatas tanah. Lapisan ini akan merangkap polutan–polutan yang dekat sumber-sumber emisi dan berperan sebagai pelindung panas, memperlambat penyebarannya. Kondisi-kondisi seperti ini akan menjadi permasalahan jika kecepatan angin rendah. Keadaan isotermal adalah suatu keadaan yang dijumpai bila tidak ada perubahan dalam temperatur didaerah ketinggian, sehingga mempunyai pengaruh yang sama.
Fenomena iklim dan cuaca lain yang sangat mempengaruhi kualitas udara adalah heat urban island yaitu panas yang dihasilkan oleh sebuah kota mengakibatkan meningkatnya suhu udara, sehingga terjadi penarikan suhu lebih dingin kedalam dan kemungkinan udaranya lebih tercemar dari daerah-daerah industri sekitarnya. Sebaiknya pada kota-kota yang bersuhu lebih tinggi, yang terkena sinar matahari dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi, cenderung mudah terbentuknya jaringan ozon dan fotokimia oksidan lain dari emisi-emisi polutan .
Letak tofografi kota-kota besar juga dapat mempengaruhi sifat penyebaran dan transportasi zat-zat polutan,contohnya sbb :
Polusi udara di kota Beijing
1. Beijing, Kairo, New Delhi dan Moskow mempunyai tingkat tofografi relatif dan iklimnya tak dipengaruhi oleh molekul air .
2. Bangkok, bombay, Buenos aires, Calcutta, Jakarta, Karachi, London, Manila, New York, Shanghai dan Tokyo mempunyai tingkat tofografi yang relatif dan iklimnya
dipengaruhi oleh molekul air.
3. Los Angeles, Mexico city, Rio de janeiro, Sao paolo dan Seoul mempunyai tofografi beraneka ragam dan suhunya dipengaruhi oleh pegunungan disekitarnya.
Keberadaan yang jelas dari suatu badan air/molekul dapat mempengaruhi iklim mikro dan arah angin pantai siang dan malam hari. Bukit-bukit yang mengitari kota-kota sering berfungsi sebagai penghalang hembusan angin, perangkap polusi yang dekat kekota. Pada kota-kota yang dikitari oleh pegungungan tinggi, seperti Los Angeles dan Mexico City, zat-zat polutan mungkin akan terperangkap dalam udara selama beberapa hari. Daerah pegunungan juga berfungsi sebagai
penghambat transportasi polusi udara di kota-kota besar. Pada kota-kota dengan bangunan berstruktur tinggi penyebaran emisi polutan akibat angin besar lebih rendah (The Canyon Effect), karena terhalang oleh bangunan.
Tekanan magma dari perut Gunung Merapi, membuat asap solfatara dari puncak gunung di perbatasan Jateng/DIY mengalami peningkatan. Turunnya asap tebal warna putih di pagi hari, membuat suhu udara di sekitar gurung yang kini berstatus aktif normal, terasa panas. “Pagi hari, asap solfatara yang keluar merambat turun menelusuri lereng gunung, merupakan pemandangan menarik. Apalagi sejak dua hari ini cuaca cerah, membuat asap yang keluar karena tekanan angin,” kata Pengamat Gunung Merapi di Pos Ngepos, Srumbung, Magelang, Repiyo, kemarin.
Menurutnya, turunnya asap solfatara yang keluar dari puncak Merapi, menyebabkan suhu udara terasa panas dan kering, terutama udara di wilayah Kabupaten Magelang. Ini disebabkan karena angin di atas puncak Merapi sangat kencang, dan membuat asap yang disertai awan turun mengikuti arah angin.
Seperti apakah asap solfatara itu???
Solfatara adalah fumarol yang mengeluarkan gas-gasoksidabelerang (seperti SO2 dan SO3), selain karbon dioksida (CO2)dan uap air (H2O). Solfatara mudah dikenali karena udara sekitarnya berbau busuk seperti kentut, sebagai bau khas gas-gas oksida belerang. Dalam konsentrasi tinggi, gas emisi ini juga berbahaya bagi hewan dan manusia.
Sedangkan, Fumarol (Latinfumus, asap) adalah lubang di dalam kerak bumi (maupun objek astronomi yang lain), yang sering terdapat di sekitar gunung berapi, yang mengeluarkan uap dan gas seperti karbon dioksida, sulfur dioksida, asam hidroklorik, dan hidrogen sulfida. Nama solfatara, yang berasal dari kata solfo dari bahasa Italia, sulfur (melalui dialekSisilia) diberikan pada fumarol yang mengeluarkan gas sulfur.
Fumarol bisa terdapat di sepanjang retakan kecil maupun rekahan yang panjang, dalam medan atau klaster yang kacau balau, dan di permukaan aliran lava serta endapan aliran piroklastik yang tebal. Lapangan fumarol merupakan suatu wilayah mata air panas dan semburan gas dimana magma atau batuan beku yang panas di kedalaman yang dangkal atau air tanah. Dari perspektifnya air tanah, fumarol bisa dideskripsikan sebagai mata air panas yang membuat air mendidih sebelum air mencapai permukaan tanah.
Aliran piroklastik ini merupakan campuran dari fragmen solid hingga semisolid yang panas. Gas tersebut akan menuruni lereng bangunan vulkanik. Piroklastik merupakan emulsi yang lebih berat dari udara dan bergerak seperti salju. Bedanya, fenomena vulkanik ini mengandung materi panas, gas beracun dengan kecepatan badai sekitar 100 kilometer per jam. Piroklastik juga fenomena paling mematikan dari semua unsur vulkanik lainnya.
Kebanyakan, aliran piroklastik atau wedhus gembel ini terdiri dari dua bagian yaitu aliran basal yang merupakan fragmen kasar dan bergerak di stagnan serta awan abu turbulen yang muncul di aliran basal tersebut. Abu mungkin jatuh dari awan ini di arah angin ke wilayah aliran piroklastik.
Suhu ekstrim batu dan gas di dalam aliran piroklastik umumnya antara 200 derajat Celcius hingga 700 derajat Celcius.Ini dapat menyebabkan terbakarnya beberapa materi terutama produk minyak bumi, kayu, vegetasi, hingga rumah.
Arus piroklastik bervariasi dalam ukuran dan kecepatan. Tapi, arus yang bergerak kurang dari 5 km dari gunung berapi dapat menghancurkan bangunan, hutan, dan lahan pertanian. Dan di pinggir aliran piroklastik, bisa menyebabkan kematian dan cedera serius pada masyarakat dan hewan. Selain itu juga dapat mengakibatkan luka bakar serta keracunan saat menghirup abu panas dan gas.
Aliran piroklastik umumnya mengikuti lembah-lembah atau daerah dataran rendah lain. Ini tergantung pada volume puing batu yang dibawa oleh arus.Dampak piroklastik atau wedhus gembel di antaranya dapat membendung atau menghalangi aliran sungai.
Ini dapat menyebabkan penyumbatan dan campuran fragmen batu yang muncul di hilir. Selain itu, meningkatkan kikisan aliran dan erosi selama badai hujan di masa depan.Aliran piroklastik sempat muncul di Gunung Mayon, Filipina pada 1968, Gunung Kelut di Jawa tahun 1983, Gunung Pinatubo, Filipina pada 1993 dan Gunung Unzen di Jepang. Di abad ini, sekitar 30 ribu orang telah meninggal akibat aliran piroklastik.
Salah satu aktivitas fumarol yang terkenal adalah Lembah Ten Thousan Smokes, yang terbentuk selama meletusnya gunung Novarupta di Alaska pada 1912. Fumarol bisa bertahan selama beberapa dekade atau abad jika berada di atas sebuah sumber panas yang persisten, atau hilang dalam berminggu-minggu atau berbulan-bulan jika berada di puncak sebuah endapan volkanik yang masih baru dan cepat dingin.
Nama Solfatara berasal dari bahasa Latin "Sulpha terra", yang artinya "daratan belerang", atau "bumi belerang". Nama "Solfatara" diambil dari nama tempat bernama sama di Gunung Pozzoli, Italia. Keberadaan aktivitas gunung berapi telah memungkinkan Pozzuoli menjadi daerah termal penting sejak zaman kuno. Di sana pengunjung masih bisa melihat asap mengepul dari tanah dan hidrogen sulfida bau.
Saat ni gunung merapi yang terletak di jogja kembali meletus dan mengeluarkan abu vulkanik,tidak hanya masyarakat yang tinggal di daerah jogja dan sekitarnya saja yang merasakan namun abu vulkanik tersebut sampai di daerah bandung dan ciamis disana terjadi hujan abu walaupun tidak selebat yang terjadi di jogja,namun ada beberapa daerah disekitar jogja dan jateng yang tidak terkena hujan abu walaupun di daerah sekitarnya terkena kenapa demikian???
Dengan pengetahuan saya miliki yang saya baca dari berbagai sumber saya berusaha menjelaskan tentang abu vulkanik akibat dari erupsi gunung merapai
Apakah abu vulkanik itu????
Abu vulkanik terbentuk selama terjadinya letusan gunung berapi letusan ini terjadi ketika gas gas yang dilarutkan dalam batuan memperbesar tekananya dan naik keatas sehingga bercampur dengan udara,selain itu ketik air yang ada didalam perut gunung dipanaskan dengan suhu tinggi akan menghasilkan tekanan yang besar dan dapat menghancurkan batuan padat gas yang bercampur dengan udara kemudian membeku dan membentuk batu vulkanik dan kaca apabila tertiup oleh angin maka partikel ini akan berpindah hingga ribuan kilometer
potongan batuan vulkanik dan kaca memiliki ukuran sangat kecil,abu vulkanik berbeda dengan abu yang dihasilkan pada proses pembakaran kayu atau kertas karena abu vulkanik tidak larut dalam air dan bentuknya kasar selain itu abu vulkanik dapat menimbulkan korosif pada bahan dan dapat mengalirkan listrik apabila dalam kondisi basah
ukuran butir butir dari abu vulkanik yang berasal dari letusan gunung berapi sangan bervariasi dan berbeda beda batu yag berasal dari letusan gunung merapi akan jatuh ketanah dengan jarak yang deket dengan sumber letusan namun untuk partikel partikel yang ukuranya kecil akan tertiup oleh angin karena ukuranya sangat kecil dan ringan ukuran partikel partikel tersebut sebesar 2mm atau0,001 milimeter (1 / 25, 000 inci) bahkan lebih kecil lagi dan akan terbawa oleh angin dengan jarak beberapa kilo meter dari sumber letusan
Bahaya abu vulkanik terhadap lingkungan
Abu vulkanik yang mengandung butiran kaca dan memiliki sifat korosif dapat merusak kondisi lingkungan yang terkena seperti pohon pohon kanjadi kering dan dapat merusak peralatan yang terbuat dari besi karena dapat membuat besi menjadi karat,selain itu ketika abu vulkanik semakin tebal dan jumlahnya banyak maka akan mengganggu jarak pandang untuk kendaraan selain itu karena sifat abu ini tidak larut dalam air maka apa bila jatuh kesungai abu ini akan mengendap sehingga sungai ini tercemar dan membahayakan bagi kehidupan manusia
Bahaya abu vulkanuk untuk kesehatan
Selain berbahaya untuk kesehatan abu vulkanik yang bentuknya kecil dan terdiri dari lapaisan kaca juga dapat berbaha untuk kesehatan diantanya dapat mengganggu pernapasan karena udara yang dihirup masuk kedalam hidung dan mengendap di dalam paru-paru,dan dapat mengakibatkan penyaki ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) yang kedua bahaya abu juga dapat membahayakan mata dan merusak penglihatan yang ketiga abu vulkanik dapat menimbulkan alergi pada kulit,untuk menghindari bahaya tersebut maka diusahakan ketika keluar dari rumah menggunakan masker,kaca mata serta baju lengan panjang untuk melindungi tubuh dari bahaya abu vulaknik
Kerugian abu vulkanik pada sector ekonomi dan transportasi
Semenjak meletusnya gunung merapi banyak dampak kerugian yang dirasakan oleh masyarak yang tinggal di sekitar gunung merapi atau yang tinggal jauh dari gunung merapai untuk yang berdomisili didekat gunung merapi harta benda serta rumah meraka menjadi hancur akibat serangan awan panas yang memiliki suhu yang tinggi rumah mereka dengan cepat terbakar dan roboh selain itu mereka juga kehilangan mata pencharian untuk membantu perekonomian,banyaknya lahan perkebunan dan pertanian yang rusak akibat awan panas ini mengakibatkan mereka kehilangan usaha yang setiap harinya meraka makan dari usaha tersebut,selain itu banyak hewan-hewan ternak yang meninggal akibat serangan awan panas ini
Untuk masyarakat yang jauh dari gunung merpai juga terkena abu vulkanik yang terbawa oleh angina sehingga dapat menggangu perjalanan untuk pergi ke kantor,pedagang kaki lima dan took-toko semuanya tutup karena dagangan mereka terkana abu,pada bidang transportasi mengakibatkan penundaan penerbangan di karenakan jarak pandang yang kurang memungkinkan karena tertutup debu.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk pembaca dan semoga saudara kita yang tertimpa bencana diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadpi bencana ini karena dibalik cobaan ada hikmah yang tersimpan semoga allah menggantinya dengan yang lebih baik.
Jakarta - Gunung Merapi memiliki kecenderungan membentuk kubah lava setelah bererupsi. Hal itu bisa dilihat dari letusan Merapi apda 2006 yang meninggalkan kubah lava baru. Namun
pada letusan 2010 ini, terlihat perubahan tipe letusan.
Vulkanolog Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta Dr Eko Teguh
Sampurno, menjelaskan, kandungan gas dalam magma Merapi yang banyak membuat tipe letusannya menjadi berubah.
Berikut ini wawancara detikcom dengan penulis desertasi Karakter Lahar Gunung Api
Merapi sebagai Respons Perbedaan Jenis Erupsi Sejak Holosen ini, Jumat (5/11/2010).
Letusan Merapi kali ini bertipe vulkanian karena letusan berikutnya jauh lebih dahsyat?
Memang ada perubahan tipe letusan. Karena ada energi yang cukup maka bisa membersihkan kubah lava. Tidak hanya menyusupkan magma, tapi melontarkan. Ini karena energinya yang terakumulasi. Perubahan tipenya karena dinamika magma yang mengandung semakin banyak gas.
Tipe letusan Merapi memang dalam sejarahnya ada perubahan mengalirkan lava, membentuk kubah, erupsi letusan. Dan memang ada siklusnya. Jadi sekian tahun kubah, sekian tahun eksplosif, sekian tahun berubah lagi. Ini siklus gunung strato (tinggi dan mengerucut yang terdiri atas lava dan abu vulkanik yang mengeras).
Pada suatu gunung ada siklus pertumbuhan gunung api. Ada periode yang erupsinya banyak lava mengalir, bentuk kubah, dan sebagainya. Sifatnya bisa saja berubah-ubah, namun tidak berarti sangat cepat. Tipe strato, seperti kebanyakan gunung di Indonesia memang begitu.
Mengapa letusannya kali ini eksplosif vertikal?
Ini karena kekentalan lava dan energi yang terkandung. Tekanan gas yang sangat kuat membuat semburannya vertikal, semua ke atas. Seperti botol yang punya satu lubang ke atas. Tapi saya lihat ini ada bukaan di selatan. Jadi selain vertikal ada hembusan yang ke selatan.
Kegempaan yang terjadi, seperti tremor dan gempa vulkanik di sekitar Merapi merupakan tanda ada energi dari magma yang akan menuju kawah di puncaknya.
Tipe letusan gunung mengikuti sejarahnya. Adakah sejarah letusan Merapi yang katastrofik?
Memang pernah terjadi letusan besar, hanya saja bukan dalam sejarah modern. Letusan katrastofik itu artinya menghancurkan tubuhnya, seperti Gunung Krakatau. Nah, Merapi ini tidak pernah menghancurkan tubuhnya sendiri.
Yang pernah terjadi adalah erupsi sampai sebagian tubuhnya sliding, geser atau longsor. Merapi itu ada Merapi tua (60.000-8000 tahun lalu), pertengahan (8.000-2.000 tahun lalu) dan baru (2.000 tahun lalu-sekarang). Merapi yang kita kenal sekarang ini adalah Merapi baru.
Berdasar level Volcanic Explosivity Index (VEI), apakah letusan Merapi kali ini termasuk katastrofik?
Kalau materialnya jumlahnya 60 juta meter kubik. Artinya itu 0,06-0,1 km kubik, dan indeks erupsi level 4. Skala itu belum katastrofik. Kalau sudah mencapai level 6 atau 7 itu baru katastrofik. Merapi ini biasanya di VEI 2 atau 3. Saat ini sudah yang termasuk tingginya versi Merapi.
Gunung yang pernah VEI level 6 itu adalah Krakatau yang meletus pada 1883 dengan mengeluarkan 18 km kubik magma. Sedangkan yang VEI 7 adalah letusan Tambora pada 1815.
Gunung yang sering meletus akan memiliki skala VEI rendah dan sebaliknya gunung yang jarang meletus memiliki skala VEI tinggi.
Letusan besar kali ini karena bagian dari siklus letusan besar Merapi?
Sebenarnya Merapi itu memang cukup sering meletus. Saya rasa ini siklus 100 tahunan yang menyimpang atau lebih cepat 20 tahun. Karena pada tahun 1930 ada letusan Merapi yang besar.
Ada akumulasi gas di tubuh Merapi sehingga volume magma menjadi lebih besar. Karena itu energinya juga banyak.
Keasaman magma berbanding lurus dengan kekentalannya. Semakin asam magma, maka semakin kuat kemampuannya menahan gas. Semakin dalam waduk magma maka semakin besar erupsinya. Merapi ini masih untung karena kantong magmanya tidak terlalu dalam, kedalamannya sekitar 2,5 km dari puncak.
Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan material yang dikeluarkan Merapi mencapai hampir 100 juta meter kubik. Ini ancaman lahar dingin?
Material didistribusikan relatif merata. Kalau ada hujan, maka akan menjadi material lahar. Akan mengalir ke semua kali yang berhulu di Merapi, dan kalau banyak akan mengalir juga hingga Kali Code di Yogyakarta. Yang jelas, di mana ada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terisi hasil erupsi maka akan ada lahar. Endapan lahar akan memenuhi sungai.
Letusan gunung api selama ini tidak dapat dicegah. Upaya yang dapat dilakukan hanyalah mengurangi jumlah kerugian dan korban, tetapi tidak mungkin menghilangkan sama sekali. Apalagi, instansi terkait pun belum dapat memastikan dengan tepat waktu letusan terjadi. Kesadaran, kewaspadaan dan kesiap-siagaan komunitas jelas diperlukan. Berdasarkan pengalaman letusan 22 November 1994 tersebut, untuk mengurangi jumlah dan kerugian akibat letusan gunungapi perlu dilakukan peningkatan pemahaman yang benar tentang perilaku gunungapi tersebut. Pemahaman atas sebuah kebenaran tentu saja boleh saja berbeda. Ada kebenaran di atas buku, dan ada pula kebenaran atas kenyataan yang ada. Di lereng Merapi, masyarakat korban membawa informasi dan pengalaman luar biasa. Pengalaman korban dapat menguji pendapat umum atau pakar yang sebenarnya tidak mengalami peristiwa tersebut. Selanjutnya, dapat menjadi sumbangan pada pemahaman tentang awan panas. Bagi masyarakat Turgo dan sekitarnya, resiko paling tinggi dari letusan Merapi yang pernah terjadi adalah akibat awan panas.
Awan Panas, Panas Betul
Sebuah kenyataan tidak menarik ketika masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana gunung api, tetapi kurang memahami dengan baik resiko letusan gunungapi yang diakibatkannya. Sebelum 22 Nopember 1994, sebagian besar masyarakat Turgo dan sekitarnya cenderung belum tahu bahaya awan panas.Pada saat terjadi awan panas, lokasi saksi mata dapat dibagi menjadi tiga posisi, di sekitar Turgo, di sekitar kali Boyong dan di sekitar Kaliurang . Jarak saksi mata korban di Turgo dan Kaliurang dengan puncak Merapi sekitar 6.000 - 6250 meter, dengan jarak maksimum saksi sekitar 250 meter dari tebing sungai Boyong. Reaksi atas munculnya awan panas beraneka ragam. Sebagian saksi mata merasa telah muncul sebuah tanda buruk sehingga mengambil keputusan untuk lari, merasa takut, bingung. Beberapa saksi juga ingin tahu apa yang terjadi. Akhirnya semua korban melakukan upaya penyelamatan diri, antara lain dengan masuk ke dalam rumah atau lari ke luar rumah dan tidak bisa berbuat apa-apa karena rumahnya roboh.Awan panas merupakan “pengalaman baru” bagi para saksi mata. Pengetahuan mengenai awan panas didapatkan dari cerita orang tua-tua tentang peristiwa awan panas tahun 1961 dan pindahnya orang-orang desa sekitar Ngori, Patuk dan Sembung. Beberapa saksi mata menganggap awan panas tidak berbahaya bagi kawasannya karena lazimnya awan panas meluncur ke arah barat dan barat daya, ke Kali Krasak. Olah karena itu sebagian besar saksi mata baru mengetahui bahwa awan panas itu berbahaya setelah peristiwa tersebut. Makna “pengalaman baru” ini menjadikan para saksi mata tidak saling memperingatkan dan merasa tidak ada yang memperingatkan akan adanya letusan gunungapi. Termasuk juga tidak ada sistem peringatan dan informasi dini dari instansi terkait. Peringatan hanya diterima oleh sebagian kecil saksi mata karena dapat melihat G. Merapi dan mengetahui awan panas mulai turun. Kebetulan sebagian saksi mata berada pada posisi yang tidak dapat melihat G. Merapi karena tertutup bukit Turgo.Bentuk, warna dan kondisi awan panas ternyata cenderung berbeda menurut posisi. Saksi mata bukan korban yang berada di barat kali Boyong melihat awan panas seperti asap tebal berwarna hitam, dan merah bergulung‑gulung. Saksi mata yang terjebak di tengah awan panas melihat awan panas berwujud seperti abu berwarna hitam, merah dan coklat. Di bagian tepi, awan panas terlihat seperti asap tebal kemerahan dan percikan api yang merah membara. Bara api yang telah di tanah berloncat-loncat. Saksi mata bukan korban di timur kali Boyong melihat awan panas seperti asap tebal berwarna hitam, abu-abu, dan merah bergulung‑gulung di bagian bawah, dan bergumpal-gumpal semakin besar dan warna berubah menjadi bening. Setelah proses itu selesai, suasana menjadi terang kembali. Beberapa saksi mata korban merasakan gelap pekat seperti malam. Selanjutn ya kondisi berangsur normal ditandai dengan kepekatan awan panas yang berkurang, sampai udara jernih kembali, namun awan panas kecil masih berguguran.
Kecepatan Gerak dan Suhu
Awan panas bergerak cepat dan berada di lokasi dalam waktu singkat. Disadari bahwa kecepatan awan panas sampai di lokasi dalam waktu singkat, kurang dari satu menit. Saksi mata di Kaliurang melihat awan panas lebih dulu menyerang kawasan Turgo dengan menghancurkan pemukiman dan hutan, baru kemudian melanda Kaliurang. Kecepatan gerak awan panas sangat berhubungan dengan besar tekanan yang diberikan, yang tergantung posisi terhadap alur utama (kali Boyong) dan morfologi penghalang (bukit Turgo dan Plawangan). Secara umum gerak awan panas sangat cepat. Gerakan awan panas di barat kali Boyong lebih kuat dibanding dengan di timur kali Boyong. Saksi mata bukan korban melihat proses perjalanan “serangan” awan panas dari puncak Merapi sampai menyerang Turgo kurang dari 10 menit. Serangan awan panas hanya berlangsung sekali dan setelah itu tidak ada lagi. Namun setelah awan panas menyerang, Merapi masih mengeluarkan awan panas tapi relatif kecil.Sebaran butir dan arah gerak awan panas tergantung posisi saksi mata terhadap terhadap alur utama, kali Boyong itu, dan morfologi penghalang, bukit Turgo dan Plawangan. Di barat kali Boyong awan panas menyerupai hujan pasir yang tertiup angin, bergerak miring dari arah utara atau timur laut. Di dalam alur kali Boyong, awan panas seperti hujan kerikil dari arah utara. Di timur kali Boyong awan panas seperti hujan pasir dan abu yang tertiup angin, sesuai arah angin dari timur dan timur laut. Kecepatan gerak awan panas di sebelah timur kali Boyong lebih memberikan kesempatan para saksi mata untuk bereaksi menyelamatkan diri dibanding di sebelah barat. Sebagian saksi mata di timur kali Boyong, walaupun akhirnya menjadi korban, masih sempat memberikan tanda bahaya ke warga desa yang berada di lembah kali Boyong.Saat awan panas menerpa, saksi mata cenderung masih dapat berdiri untuk berlari ataupun berlindung. Beberapa tidak dapat berdiri karena jatuh akibat hembusan awan panas yang kuat, atau jatuh karena tertimpa rumah yang roboh. Bagian dalam awan panas terasa kering dan pasirnya terasa panas dengan bau belerang bercampur bau lumpur yang menyengat. Awan panas menyebabkan gangguan pernapasan, sesak napas dan bahkan tidak bisa bernapas sama sekali. Meskipun telah melakukan berbagai tindakan perlindungan, butiran pasir tetap masuk ke mulut, hidung atau telinga. Gerakan perlindungan secara reflek dilakukan dengan menutup wajah dengan tangan, atau menutupi tengkuk dengan kedua tangan sambil menundukan wajah. Meskipun tetap kemasukan butiran awan panas di mulut, hidung maupun telinga, namun upaya perlindungan seperti itu setidaknya telah menyelamatkan wajah responden.
Manfaat Baju, Topi dan Sandal
Topi memberi manfaat cukup penting. Kondisi rambut saksi mata korban cenderung berbeda berdasarkan posisi. Rambut saksi mata korban di Turgo cenderung terbakar atau gimbal dan berdiri, sementara saksi mata korban di Kaliurang hanya sebagian kecil yang terbakar atau gimbal dan berdiri. Saksi mata korban yang memakai topi, kondisi rambutnya cenderung tidak apa-apa.Pakaian yang dikenakan memberikan makna proteksi penting. Seluruh saksi mata korban merasa terselamatkan oleh pakaian yang dikenakan, karena bekas luka bakar terkena pada bagian yang terbuka. Saksi mata korban umumnya mengenakan baju lengan pendek, dan menunjukan luka bakar berupa lubang-lubang di Turgo dan tidak apa-apa di Kaliurang. Saksi mata korban memakai kaos lengan pendek. Kondisi kaos saksi mata korban di Turgo berlubang-lubang dan di Kaliurang tidak apa-apa. Saksi mata korban di atas kali Boyong mengenakan kaos lengan panjang dan menampakan kondisi berlubang-lubang. Celana yang dikenakan saksi mata korban umumnya celana panjang. Dari jumlah tersebut hanya sebagian kecil yang terbakar. Saksi mata korban yang mengenakan celana pendek, kakinya terbakar semua.Saksi mata korban yang mengenakan sandal atau sepatu, kakinya tidak terbakar. Saksi mata korban yang tidak memakai sandal atau sepatu cenderung mengelupas di bagian telapak kaki. Setelah awan panas selesai, semua saksi mata korban mengatakan masih mampu berjalan, sambil membopong anak dan bahkan mampu berlari. Waktu yang diperlukan untuk evakuasi mulai penemuan korban sampai pengangkutan ke rumah sakit sangat beragam. Korban umumnya segera ditemukan oleh penolong, hanya sebagian kecil yang tidak tahu karena pingsan atau merasa cukup lama.
Gangguan Medis
Awan panas lebih memberikan problem medis bagi korban di Turgo dibanding di Kaliurang. Penanganan dan perawatan pertama di rumah sakit sangat bervariasi, antara lain kurang dari sebulan, lebih dari sebulan dan lebih dari tiga bulan. Problem medis yang muncul umumnya adalah rasa gatal pada daging di bawah kulit pada bekas luka bakar. Pada kasus khusus misalnya sampai kehilangan telinga, rambut jadi gundul dan tidak dapat tumbuh atau gangguan syaraf. Kondisi tersebut yang secara tidak langsung menyebabkan daya tahan tubuh menurun dan produktifitas terganggu.
Lantas?
Berdasarkan pengalaman saksi mata yang dipaparkan itu, terdapat beberapa kenyataan kritis yang penting dan dapat digunakan sebagai pendekatan dalam kesiapsiagaan menghadapi bahaya letusan G. Merapi, antara lain :
§ Sebaran awan panas dikontrol oleh volume longsoran, morfologi kaki gunungapi dan alur-alur sungai. Untuk kasus ini lebar sebaran maksimum 250 m dari dinding alur sungai, serta panjang sebaran maksimum sekitar 6.500 m dari pusat erupsi. Pusat aliran awan panas cenderung ke arah bukit Turgo / sisi lengkung luar lembah kali Boyong.
§ Kecepatan gerak awan panas dikontrol kemiringan lereng. Untuk kasus ini, waktu tempuh sekitar lima menit, atau dengan kecepatan gerak lebih 75 km/jam. Gerak pada pusat aliran memberikan tekanan yang besar, dan semakin berkurang pada tepi aliran.
§ Suhu awan panas sangat tinggi, namun hanya mempunyai durasi yang singkat (beberapa detik sampai kurang dari satu menit). Hal ini menguntungkan karena efek bakar umumnya hanya terjadi pada kontak langsung.
§ Gangguan medis ikutan selain efek bakar disebabkan oleh pasir dan abu yang masuk ke mulut, telinga dan hidung, serta bau belerang dan tanah mencolok hingga sesak nafas.Mempertimbangkan kenyataan kritis tersebut diatas maka dapat dilakukan pendekatan mitigasi bencana dengan “cara lain”. Perlu kewaspadaan bencana alam gununga pi yang diadakan dan juga bertumpu oleh masyarakat. Model ini dimulai dengan mengajak masyarakat memahami posisi keruangannya yang berada di kawasan rawan bencana, sampai pada masyarakat mempunyai kemampuan untuk melakukan kesiapsiagaan terhadap ancaman letusan gunungapi. Secara swadaya diharapkan masyarakat mampu memproteksi / melindungi diri secara kelompok maupun pribadi terhadap bahaya bencana gunung Merapi. Memperhatikan kenyataan kritis itu pula, maka akan lebih baik jika :
§ Masyarakat selalu memahami dan tanggap terhadap semua gejala awal, dan mampu memberikan informasi atau melakukan mobilisasi warga dalam waktu singkat. Pada kasus ini maksimal selama lima belas menit.
§ Masyarakat menghindari mendirikan pemukiman dan bahkan melakukan kegiatan pada kawasan sangat rawan, yaitu zona dengan jarak sedikitnya 250 m dari dinding alur sungai, pada jarak sekitar 6.500 m dari pusat erupsi.
§ Penguatan kemampuan masyarakat sehingga dapat segera berlindung pada tempat yang aman (bunker, misalnya) dalam waktu singkat yang tahan terhadap hempasan dan suhu tinggi, serta tidak terjadi kontak langsung untuk waktu yang cukup singkat. Bak kamar mandi dengan selang untuk pelengkap bernafas, misalnya.